PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE BERCERITA BERPASANGAN
PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS VI SDN ....
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.Pada hakekatnya pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia yaitu belajar berkomunikasi dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis serta untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia dalam segala fungsinya yaitu sebagai sarana berpikir atau bernalar. Di lembaga pendidikan yang bersifat formal seperti sekolah, keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari hasil belajar siswa dalam prestasi belajarnya. Kualitas dan keberhasilan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru memilih dan menggunakan metode pengajaran.
Kenyataan di lapangan, khususnya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, kegiatan pembelajarannya masih dilakukan secara klasikal. Pembelajaran lebih ditekankan pada model yang banyak diwarnai dengan ceramah dan bersifat guru sentris. Hal ini mengakibatkan siswa kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan siswa hanya duduk, diam, dengar, catat dan hafal. Kegiatan ini mengakibatkan siswa kurang ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran yang cenderung menjadikan mereka cepat bosan dan malas belajar.
Melihat kondisi demikian, maka perlu adanya alternatif pembelajaran yang berorientasi pada bagaimana siswa belajar menemukan sendiri informasi, menghubungkan topik yang sudah dipelajari dan yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat berinteraksi multi arah baik bersama guru maupun selama siswa dalam suasana yang menyenangkan dan bersahabat. Salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagaimana yang disarankan para ahli pendidikan adalah pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan.
Pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan pada anak untuk bekerja sama dengan tugas-tugas terstruktur (Lie, 1999:12). Melalui pembelajaran ini siswa bersama kelompok secara gotong royong maksudnya setiap anggota kelompok saling membantu antara teman yang satu dengan teman yang lain dalam kelompok tersebut sehingga di dalam kerja sama tersebut yang cepat harus membantu yang lemah, oleh karena itu setiap anggota kelompok penilaian akhir ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Kegagalan individu adalah kegagalan kelompok dan sebaliknya keberhasilan siswa individual adalah keberhasilan kelompok. Sedangkan bercerita berpasangan merupakan salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif. Yang membedakan tipe bercerita berpasangan dengan lainnya adalah dalam tipe ini guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan di kelas V SDN Slempit 5 ?
2. Apakah keuntungan dan kelemahan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V SDN Slempit 5?
C. Tujuan Penulisan
Melalui penulisan ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui bagaimana proses belajar mengajar Bahasa Indonesia dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan di kelas V SDN Slempit 5
2. Mengetahui keuntungan dan kelemahan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di kelas V SDN Slempit 5
D. Manfaat Penulisan
Manfaat yang diperoleh dari hasil penulisan ini adalah :
1. Bagi V SDN Slempit 5 dapat dijadikan sebagai salah satu modal pembelajaran yang nantinya dapat diterapkan pada saat pembelajaran Siswa.
2. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran di sekolah guna meningkatkan prestasi belajar siswa.
3. Bagi siswa, dapat memotivasi siswa dalam beraktifitas atau berpikir secara optimal dalam metode kooperatif agar siswa tidak jenuh dan bosan.
E. Batasan Masalah
Agar dalam pembahasan penelitian ini tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan maka :
1. Penelitian ini hanya membatasi pada penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan.
2. Penelitian ini difokuskan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pokok bahasan mendengarkan berita.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Kooperatif
Sistem pembelajaran kooperatif bisa didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk dalam struktur ini adalah lima unsur pokok yaitu saling ketergatungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama dan proses kelompok. Metode pembelajaran kooperatif disebut juga metode pembelajaran gotong royong. Ironisnya model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan, walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Kebanyakan pengajar enggan menerapkan sistem kerja sama di dalam kelas karena beberapa alasan. Alasan yang utama adalah kekhawatiran bahwa akan terjadi kekacauan di kelas dan siswa tidak belajar jika mereka ditempatkan dalam grup. Selain itu, banyak orang mempunyai kesan negatif mengenai kegiatan kerja sama atau belajar dalam kelompok.
Menurut Bannet (1991), cooperative learning adalah kerja kelompok, tetapi tidak semua kerja kelompok merupakan pembelajaran kooperatif. Unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah :
1. Ketergantungan yang positif
2. Akuntabilitas individual
3. Interaksi tatap muka
4. Ketrampilan sosial
5. Prosesing
Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan :
1. Saling ketergantungan positif
2. Tanggung jawab perseorangan
3. Tatap muka
4. Komunikasi antar anggota
5. Evaluasi proses kelompok
1. Saling Ketergantungan Positif
Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk mencapai kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.
Penilaian juga dilakukan dengan cara yang unik. Setiap siswa mendapat nilainya sendiri dan nilai kelompok. Nilai kelompok dibentuk dari “sumbangan” setiap anggota. Untuk menjaga keadilan, setiap anggota menyumbangkan poin di atas nilai rata-rata mereka. Misalnya nilai rata-rata si A adalah 65 dan kali ini dia mendapat 72, maka dia akan menyumbangkan 7 poin untuk nilai kelompok mereka. Dengan demikian, setiap siswa akan bisa mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan. Beberapa siswa yang kurang mampu tidak akan merasa minder terhadap rekan-rekan mereka karena toh mereka enggan memberikan sumbangan. Malahan merasa terpacu untuk meningkatkan usaha mereka dan dengan demikian menaikkan nilai mereka. Sebaliknya, siswa yang lebih pandai juga tidak akan merasa dirugikan karena rekannya yang kurang mampu juga telah memberikan bagian sumbangan mereka.
b. Tanggung Jawab Perseorangan
selanjutnya silahkan kontak kami via email
KTI Pembelajaran kooperatif type bercerita..
KTI Pengelompokan terpadu dapat....
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Sekolah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Semua fungsi sekolah tersebut tidak akan efektif apabila komponen dari sistem sekolah tidak berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri. salah satu dari bagian komponen sekolah adalah guru.
Guru dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan.
Sebagai guru kelas penulis melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena jumlah siswa terlalu banyak. Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru dalam mengelola kelas. Namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kelas yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba menampilkan pengelolaan kelas dengan model pengelompokkan terpadu. Yang mana setiap kelompok terdiri dari beberapa orang siswa dengan tingkat kemampuan, sikap, dan keterampilan yang berbeda, karena hal ini banyak memberika manfaat dan kemudahan bagi guru dalam mengelola kelas.
1.2 Identifikasi Masalah
Banyak masalah yang berkaitan dengan pengolaan kelas yang dapat diidentifikasi, diantaranya :
Bagaimana menata siswa dalam kelas agar siswa dapat terorganisir dengan baik?
Bagaimana Penataan ruang kelas agar dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan.
Bagaimana penataan tempat duduk siswa agar siswa dapat belajar lebih efektif dan efisien serta memenuhi syarat edukatif.
Bagaimana penataan alat-alat pelajaran dan perlengkapan kelas lainnya yang dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar
Bagaimana menata keindahan dan kebersihan kelas sehingga dapat memotivasi siswa dalam kegiatan belajar.
Bagaimana membina disiplin di dalam kelas melalui pendekatan-pendekatan tertentu yang dapat mengembangkan tingkah laku siswa yang diharapkan
1.3 Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah
Dari sekian permasalahan yang ada tidak mungkin penulis dapat membahasnya secara keseluruhan, karena mengingat kemampuan yang ada baik intelektual, biaya dan waktu yang dimiliki penulis sangat terbatas. Maka penulis perlu memberikan batasan-batasan masalah. Pembatasan masalah diperlukan untuk memperjelas permasalahan yang ingin dipecahkan.
Oleh karena itu, penulis memberikan batasan sebagai berikut :
Pengelolaan kelas yang berkaitan dengan penataan tempat duduk siswa yaitu dengan model pengelompokkan terpadu
Sejauh mana model pengelompokkan terpadu membantu guru dalam pengelolaan kelas
Model pengelompokkan terpadu ini diuji cobakan pada pelajaran Sains, dengan indikator "mengidentifikasi sifat benda padat, cair dan gas"
BAB II
MODEL PENGELOMPOKKAN TERPADU DAPAT MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PENGELOLAAN KELAS
2.1 Pengertian Model Pengelompokan Terpadu
Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas memerlukan pengelolaan kelas yang efektif dan efisien salah satunya dengan menata tempat duduk siswa. Tempat duduk siswa di dalam kelas dapat dikelola dalam klasikal, individual dan kelompok.
Model pengelompokkan terpadu adalah kelompokan yang di bentuk dengan berbagai macam tujuan dan terdiri dari beberapa siswa yang memiliki latar belakang kemampuan pengetahuan sikap dan keterampilan yang berbeda.
2.1.1 Pengertian Efektifitas Pengelolaan kelas
Klik Disini Untuk Baca Selengkapnya.....
KTI SMA pengajaran berbasis Inkuiri untuk...
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Strategi Pembelajaran pada hakekatnya adalah prosedur yang sistematis dalam pelaksanaan pengajaran yang merupakan pengejawantahan dari pemahaman pendidik atas tujuan dan organisasi pengajaran serta isi pelajaran. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan paradigma pendidikan menuntut guru lebih inovatif dalam merancang pembelajaran, artinya guru harus melakukan reformasi kelas dalam menyusun maupun melaksanakan pembelajaran. Strategi dalam hal ini merupakan motivasi ekstrinsik yang diharapkan akan dapat membangkitkan motivasi intrinsik.Apabila komponen tujuan, organisasi dan isi umumnya telah ditetapkan, maka komponen strategi tergantung pada kreativitas dan kualitas profesional Guru sebagai pengelola pembelajaran.
Pengalaman mengajar selama 20 tahun di SMA Negeri 1 Geger, selama ini guru kurang kreatif menerapkan inovasi pembelajaran Kewarganegaraan. Hal ini terjadi karena pola pikir belajar diartikan sebagai perolehan pengetahuan, dan mengajar adalah memindahkan pengetahuan kepada siswa, disamping itu pembelajaran ditekankan pada hasil, bukan pada proses. Akibatnya guru terpaksa mengajar dengan sistem konvensional dengan penggunaan metode ceramah dan cara siswa belajar lebih dominan dengan menghafal.
Dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA dewasa ini menurut A. Kosasih Djahiri ( 2000;2 ); bersoko guru pada aktivitas proses belajar siswa kadar tinggi, multi domain, dan multi dimensional. Ini berarti bahwa saat merancang skenario pembelajaran harus diperhitungkan pendekatan yang bervariasi. Hal tersebut sejalan dengan hakekat manusia yang secara faktual selalu utuh dalam berfikir dan berperilaku, serta hakekat kehidupan yang selalu berkorelasi.
Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan hasil. Menurut Mulyasa (2003 ; 101): Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh siswa sekurang-kurangnya 75 % terlibat secara aktif, baik mental, fisik, maupun sosialnya. Sedangkan dari segi hasil, kualitas pembelajaran dikatakan baik apabila terjadi perubahan perilaku yang positif dari siswa antara lain; kemampuan menggali dan mengolah informasi, mengambil keputusan, menghubungkan variabel.
Nurhadi, ( 2004;43 ) Inkuiri pada dasarnya adalah suatu ide yang kompleks, yang berarti banyak hal, bagi banyak orang, dalam banyak konteks. Pengajaran berbasis inkuri (siswa menemukan sendiri) sebagai salah satu strategi dikembangkan untuk memberikan pengalaman belajar yang memungkinkan terciptanya kualitas pembelajaran. Disamping merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran kontekstual, inkuiri yang umumnya diterapkan pada pelajaran sains, akan dicoba diterapkan pada pelajaran IPS khususnya Pendidikan Kewarganegaraan.
Pemilihan strategi dalam rangka pembelajaran untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil dapat diteliti dengan penelitian tindakan kelas, karena penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah atau mengatasi masalah di kelas dengan melakukan tindakan.
B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka rumusan masalahnya, yaitu:
Apakah pendekatan inkuiri dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa untuk kompetensi dasar Penegakan HAM dan Implikasinya pada mata pelajaran PKn?
Apakah pendekatan inkuiri dapat menumbuhkan kreatifitas guru dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap kompetensi dasar Penegakan HAM dan Implikasinya.
Apakah pendekatan inkuiri dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas X SMAN 1 Geger?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan meningkatkan profesionalisme guru dalam mengelola pembelajaran sehingga dapat mewujudkan kualitas proses dan hasil belajar siswa, selain itu akan diperoleh informasi baru tentang efektifitas pendekatan inkuiri dalam pembelajaran Kewarganegaraan.
Secara Khusus penelitian ini bertujuan ;
Melalui penelitian tindakan kelas dapat memecahkan masalah / hambatan dalam pembelajaran PKn terutama Kompetensi Dasar Penegakan HAM dan Implikasinya kelas XA SMAN 1 Geger
Melalui Inkuiri memberikan pengalaman belajar siswa untuk membangun kecakapan hidupnya secara mandiri.
Mengembangkan kreatifitas guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran sehingga mutu pembelajaran dapat ditingkatkan.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian , maka hipotesis tindakan “ Pengajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan kualitas pembel-ajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk kompetensi dasar penegakan HAM dan implikasinya”.
Ditinjau dari dimensi siswa dan guru hipotesis tindakan dapat dibagi kedalam dua hal sebagai berikut ;
Pendekatan inkuiri dapat meningkatkan kualitas belajar siswa terhadap kompetensi dasar penegakan hak asasi manusia dan implikasinya.
Pendekatan inkuiri dapat meningkatkan kualitas pengajaran guru mengenai konsep penegakan hak asasi manusia dan implikasinya.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas dilakukan karena menginginkan peru-bahan ke arah lebih baik dari apa yang selama ini dijalankan guru, oleh karena itu kegiatan penelitian ini merupakan suatu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak yang terlibat saling mendukung, dilengkapi dengan fakta-fakta, dan mengembangkan kemampuan analisis.
Penelitian ini dianggap bahwa tempat kerja guru menyiapkan konteks belajar untuk dua tim ahli (peneliti yang terlatih dan para praktisi pendidikan/guru-guru di sekolah). Dalam hal ini dinilai pemahaman praktis dan keputusan guru, juga budaya kerja dan kondisi sosial dipertimbangkan serta dihargai. Kolaborator tidak berasumsi bahwa hasil penelitiannya akan merupakan teori yang dapat digunakan secara umum atau untuk orang lain, ia hanya memikirkan kepentingannya sendiri dengan tujuan agar tugasnya sehari-hari dapat dilakukan dengan baik.
Bila dilihat dari ruang lingkup, tujuan, metode dan prakteknya, diharapkan terbangunnya sikap kritis guru mengenai apa yang mereka lakukan tanpa tergantung pada teori bersifat universal dan ditemukan oleh para pakar penelitian yang seringkali tidak cocok dengan situasi dan kondisi kelas yang mempunyai ciri berbeda.
Berdasarkan hal di atas manfaat penelitian ini ialah ;
Memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMAN 1 Geger.
Diperoleh seperangkat pengalaman baru dalam inovasi pembelajaran sebagai upaya meningkatkan profesionalisme guru yakni menyusun dan melaksanakan rencana pengajaran yang sudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi kelas.
Mendorong sekolah untuk melakukan pengamatan sendiri, mencari solusi yang cocok tentang masalah pembelajaran, serta mengadakan eksperimen pendidikan yang inovatif.
Klik Disini Untuk Baca Selengkapnya.....
KTI mengasah bakat dan minat siswa
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam pembukaan Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga Negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai minat dan bakat yang dimiliki tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender. Pemerataan kesempatan dan pencapaian mutu pendidikan akan membuat warga Negara Indonesia memiliki ketrampilan hidup (life skill) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya, mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai – nilai Pancasila.
Undang undang RI No. 20 Tahun 2003 mengamanatkan pendidikan nasional berfungsi mengembangklan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mendiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sisdiknas (2003:8).
Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer yaitu (1). Afektif yang tercermin pada kualitas keimanan , ketakwaan, akhlak mulia, kepribadian unggul, dan kopentsi estetis ; (2). Kognitif yang tercermin pada kapasitas piker dan daya intelektualitas untuk menggali, mengembangkan, dan menguasai ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni, dan (3). Psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapn praktis, dam koompetensi kinestetis dapat berkembang secara optimal. Depdiknas (2007 : 6).
Sesuai dengan visi pendidikan nasional yaitu terwujudnya sistim pendidikan sebagai pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan pro aktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Mengingat perkembangan intelegensi anak antara lain : (1). Linguistik (2). Musikal, (3) Logical Matematikal (4). Sparsial (5). Interpersonal, (6). Body Kinestetik, (7). Intra personal
Berdasarkan standart isi muatan lokal pendidikan di kabupaten gresik bertujuan untuk : (1). Melestarikan dan mengembangkan Budaya daerah, (2). Meningkatkan, mengembangkan dan melestarikan lingkungan alam daerah, (3). Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan di bidang tertentu sesuai dengan keadaan perekonomian, (4). Meningkatkan penguasaan bahasa dan wirausaha. Perbup (2008 : 19).
Semua ini sangat menunjang dengan apa yang menjadi program pendidikan nasional kabupaten Gresik dengan visi : terwujudnya masyarakat Gresik agamis, demokratis, cerdas, terampil, berbudaya, dan berdaya saing.
Misi pendidikan kabupaten Gresik :
• Mengoptimalkan pendidikan agama sampai pada tataran perilaku
• Menjadikan lembaga pendidikan sebagai pelayan masyarakat untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menghormati perbedaan dan perubahan
• Meningkatkan fungsi lembaga pendidikan formal dan non formal dalam penerapan IPTEK.
• Menjadikan lembaga pendidikan sebagai wahana pelestarian budaya
• Menjadikan lembaga pendidikan sebagai wahana pengambangan dan mampu membaca serta memanfaatkan peluang
• Meningkatkan pembinaan olahraga dan kesenian siswa
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa pemerintah menerapkan program ekstrakurikuler di luar jam sekolah, selain dari proses belajar-mengajar efektif agar bakat dan minat yang dimiliki siswa dapat tersalurkan dengan baik melalui bakat dan bidang-bidang yang mereka inginkan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam rangka peningkatan potensi diri siswa, terutama bagi perkembangan dan perwujudan diri individu dalam pembangunan bangsa dan negara.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan di dalam latar belakang di atas, dapat difokuskan pembahasannya pada 4 permasalahan.
1. Mengapa Ekstrakurikuler itu penting ?
2. Apakah yang menjadi inti dari kegiatan ekstrakurikuler ?
3. Apakah yang menjadi muatan dalam kegiatan ekstrakurikuler ?
4. Bagaimankah proses pengembangan bakat dan minat siswa tersebut ?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah.
Penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa maupun sekolah sebagai acuan dalam mengasah bakat yang dimiliki melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Secara terperinci, tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah :
1. Untuk mendapatkan pemehaman mengenai ekstrakurikuler
2. Untuk mengetahui manfaat dari kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa
3. Untuk mengetahui inti dari kegiatan ekstrakurikuler
BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
2.1 Mengapa Ekstrakurikuler itu penting ?
Setiap individu / manusia mendapat pendidikan melalui cara saat ia meluangkan waktunya dan situasi ketika ia dilibatkan dalam peristiwa yang seketika dialaminya
Apabila ditelaah lebih jauh dari perspektif Pendidikan Nilai, maka apa yang ditulis Taylor dapat diartikulasikan ke dalam tiga lingkup pendidikan nilai.
Pertama, Pendidikan Nilai adalah cara terencana yang melibatkan sejumlah pertimbangan nilai – nilai edukatif, baik yang mencakup dalam manajemen pendidikan maupun dalam kurikulum pendidikan. Dari hal yang paling luas sampai yang paling sempit. Cara dapat diwakili oleh pencapaian visi dan misi untuk pengembangan nilai, moral, etika, dan estetika sebagai keseluruhan dimensi pendidikan sampai pada tindakan guru dalam melakukan penyadaran nilai – nilai pada peserta didik.
Kedua, Pendidikan nilai adalah situasi yang berpengaruh terhadap perkembangan pengalaman dan kesadaran nilai pada peserta didik. Situasi dapat berupa suasana yang nyaman, harmonis, teratur, akrab dan tenang. Sebaliknya, situasi dapat berupa suasana yang kurang mendukung bagi perkembangan siswa, misalnya suasana bermusuhan, semrawut, acuh tak acuh, dsb. Semua situasi pendidikan tersebut berpengaruh terhadap pengembangan kesadaran moral siswa, karena hal itu melibatkan pertimbangan – pertimbangan psikologis seperti persepsi, sikap, kesadaran dan keyakinan mereka.
Ketiga, Pendidikan Nilai adalah peristiwa seketika yang dialami peserta didik. Artinya pendidikan nilai berlangsung melalui sejumlah kejadian yang tidak terduga, seketika, sukarela, dan spontanitas. Semua tidak direncanakan sebelumnya, tidak dikondisikan secara sengaja dan dapat terjadi kapan saja. Penggalan – penggalan peristiwa seperti itu merupakan hidden curriculum yang dalam kasus pengalaman tertentu dapat berupa suatu kejadian kritis (critical incident) yang mampu mengubah tatanan nilai dan perilaku seseorang (siswa).
Tiga lingkup pendidikan Nilai yang diuraikan di atas memberikan gambaran bahwa proses belajar nilai pada siswa melibatkan semua cara, kondisi, dan peristiwa pendidikan. Karenanya, jika hanya mengandalkan penyadaran nilai melalui kegiatan intrakurikuler, Pendidikan Nilai tidak menjamin berlangsungya secara optimal. Bahkan jika dihitung jumlah waktu tatap muka yang digunakan secara efektif untuk mengembangkan pengalaman otentik yang bernilai, jumlah waktu efektif itu dapat dipastikan kurang dari jumlah waktu efektif di luar kelas. Kesadaran nilai dan internalisasi nilai adalah dua proses Pendidikan nilai yang terkait langsung dengan pengalaman – pengalaman pribadi seseorang. Karena itu, siswa membutuhkan keterlibatan langsung dalam cara, kondisi dan peristiwa pendidikan di luar jam tatap muka di kelas atau sering disebut dengan kegiatan ekstrakurikuler.
2.2 Apakah yang menjadi inti dari kegiatan ekstrakurikuler ?
selanjutnya silahkan menghubungi kontak kami
Klik Disini Untuk Baca Selengkapnya.....
KTI SMA/K Keterampilan menulis deskripsi
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF DESKRIPSI DENGAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi dan kebudayaan, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pada hakikatnya fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, mengungkapkan gagasan, perasaan, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa dan kemampuan memperluas wawasan. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia haruslah diarahkan pada hakikat Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai alat komunikasi. Sebagaimana diketahui bahwa sekarang ini orientasi pembelajaran bahasa berubah dari penekanan pada pembelajaran aspek bentuk ke pembelajaran yang menekankan pada aspek fungsi. Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses negoisasi pesan dalam suatu konteks atau situasi menurut Sampson (dalam Depdiknas 2005:7).
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan, tidak hanya penting dalam kehidupan pendidikan, tetapi juga sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Keterampilan menulis itu sangat penting karena merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan atau pendapat, pemikiran, dan perasaan yang dimiliki. Selain itu, dapat mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis.
Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Bahwa menulis adalah suatu kegiatan yang aktif dan produktif serta memerlukan cara berpikir yang teratur yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Keterampilan seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman sebagai suatu keterampilan yang produktif. Menulis dipengaruhi oleh keterampilan produktif lainnya, seperti aspek berbicara maupun keterampilan reseptif yaitu aspek membaca dan menyimak serta pemahaman kosa kata, diksi, keefektifan kalimat, penggunaan ejaan dan tanda baca. Pemahaman berbagai jenis karangan serat pemahaman berbagai jenis paragraf dan pengembangannya.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang yang ditetapkan sebagai Kurikulum 2006 telah diberlakukan di sekolah-sekolah mulai tahun 2006. Kurikulum 2006 ini juga diterapkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan perlu ditegaskan bahwa tugas sebagai guru adalah membelajarkan siswa, bukan mengajar. Siswalah yang harus didorong agar secara aktif berlatih menggunakan bahasa khususnya pada keterampilan menulis. Tugas guru adalah menciptakan situasi dan kondisi agar siswa belajar secara optimal untuk berlatih menggunakan bahasa agar komopetensi yang diharapkan dapat tercapai.
Berkaitan dengan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, dalam Kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis. Standar kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu Standar kompetensi adalah dasar bagi siswa untuk dapat memahami dan mengakses perkembangan lokal, regional, dan global.
Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi dan kebudayaan, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru merupakan kunci dan sekaligus ujung tombak pencapaian misi pembaharuan pendidikan, mereka berada di titik sentral untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang untuk mencapai tujuan dan misi pendidikan nasional yang dimaksud. Oleh karena itu, secara tidak langsung guru dituntut untuk lebih profesional, inovatif, perspektif, dan proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran.
Pada kesempatan ini, peneliti (guru) membahas tentang keterampilan menulis khususnya menulis paragraf deskripsi. Selama ini berdasarkan hasil observasi, keterampilan siswa untuk menulis masih sangat terbatas, terlebih lagi untuk dapat menulis paragraf deskripsi mereka kesulitan untuk dapat membedakan jenis-jenis paragraf. Agar dapat menulis kadang-kadang siswa perlu dipacu dengan menggunakan teknik dan media yang menarik. Untuk itu guru perlu mencari upaya yang dapat membuat siswa tertarik agar siswa dapat menulis dengan baik.
Dalam menulis dibutuhkan adanya ketelitian, kepaduan, keruntutan dan kelogisan antara kalimat satu dengan kalimat yang lain, antara paragraf dengan paragraf berikutnya sehingga akan membentuk sebuah karangan yang baik dan utuh. Pengajaran menulis, khususnya menulis paragraf deskripsi adalah keterampilan yang bertujuan untuk mengajukan suatu objek atau suatu hal yang sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada di depan kepala pembaca.
Melalui penelitian ini, peneliti mencoba satu pembaharuan untuk meningkatkan keterampilan menulis paragraf deskripsi yaitu melalui penggunaan teknik objek langsung. Penggunaan teknik objek langsung ini sebagai alternatif pembelajaran menulis paragraf deskripsi sehingga diharapkan siswa akan lebih tertarik untuk menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan dan diharapkan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam pembelajaran menulis. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang baru agar dapat memberdayakan siswa. Strategi pembelajaran itu antara lain pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa belajar dengan bermakna. Pendekatan kontekstual diharapkan dapat mendorong siswa agar menyadari dan menggunakan pemahamannya untuk mengembangkan diri dan penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pendekatan kontekstual yang demikian diharapkan siswa dapat mengerti makna belajar, manfaat belajar, status mereka, serta bagaimana mereka mencapai semua itu. Mereka akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari akan berguna bagi hidupnya nanti.
Pendekatan kontekstual komponen pemodelan dengan teknik objek langsung diharapkan dapat mengenalkan atau menunjukkan, memotivasi, dan menarik minat siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati dalam menulis paragraf deskripsi, dan diharapkan keterampilan menulis paragraf deskripsi akan meningkat.
B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah disimpulkan, permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut ini.
1. Bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati setelah mendapatkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan ?
2. Bagaimanakah perubahan sikap dan tingkah laku siswa setelah mendapatkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang akan dicapai dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung pada siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati.
2. Mendeskripsikan perubahan sikap dan tingkah laku siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati setelah mendapatkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi melalui teknik objek langsung.
D. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti mempunyai dua manfaat teoretis dan manfaat praktis.
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan manfaat teoretis, yaitu dapat memberikan sumbangan pemikiran dan tolok ukur kajian pada penelitian lebih lanjut yaitu berupa alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam usaha memperbaiki mutu pendidikan dan mempertinggi interaksi belajar mengajar, khususnya dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Manfaat teoretis lainnya adalah menambah khasanah pengembangan pengetahuan mengenai pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Selain itu, juga mengembangkan teori pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini dibagi menjadi empat yaitu: bagi siswa, guru, sekolah.
a. Manfaat bagi siswa
Dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis pada umumnya dan menulis paragraf deskripsi pada khususnya, dan meningkatkan kreativitas dan keberanian siswa dalam berpikir.
b. Manfaat bagi guru
Untuk memperkaya khasanah metode dan strategi dalam pembelajaran menulis, untuk dapat memperbaiki metode mengajar yang selama ini digunakan, agar dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan tidak membosankan, dan dapat mengembangkan keterampilan guru Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya dalam menerapkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.
c. Manfaat bagi sekolah
Dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam rangka memajukan dan meningkatkan prestasi sekolah yang dapat disampaikan dalam pembinaan guru ataupun kesempatan lain bahwa pembelajaran menulis khususnya menulis paragraf deskripsi dapat menggunakan teknik objek langsung sebagai bahan pencapaian hasil belajar yang maksimal.
BAB II
LANDASAN TEOREI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Pustaka Upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis pada siswa telah banyak dilakukan. Hal ini terbukti dengan banyaknya penelitian yang dilakukan oleh para ahli bahasa maupun para mahasiswa. Penelitian tersebut belum semuanya sempurna. Oleh karena itu, penelitian tersebut memerlukan penelitian lanjutan demi melengkapi dan menyempurnakan penelitian sebelumnya.
Beberapa hasil penelitian yang berhubungan dengan topik penelitian ini yaitu penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis yang akan dijadikan sebagai kajian pustaka dalam penelitian. Penelitian tersebut dilakukan oleh Esti (2004), Anis (2005), Ishmah (2006).
Penelitian Esti (2004) yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Menggunakan Elemen Bertanya Pembelajaran Kontekstual Pada Siswa Kelas IIE SMP Negeri 1 Garung Kabupaten Wonosobo, menyimpulkan bahwa dengan digunakannya elemen bertanya pembelajaran kontekstual sangat mendukung peningkatan kemampuan menulis siswa. Hal ini terbukti dari hasil penelitian tersebut yang menunjukkan adanya peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi dengan menggunakan elemen bertanya. Skor rata-rata kelas pada tahap prasiklus sebesar 50,37. Pada siklus I skor rata-rata kelas meningkat sebesar 15,54 menjadi 65,91. Sedangkan pada siklus II skor rata-rata kelas meningkat sebesar 12 menjadi 77,91. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran keterampilan menulis karangan deskripsi dengan menggunakan elemen bertanya dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa kelas IIE SMP Negeri 1 Garung Kabupaten Wonosobo.
Penelitian Anis (2005) yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Deskripsi dengan Teknik Menulis Terbimbing pada Siswa Kelas IIB SLTP Negeri 3 Kradenan Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan, membahas tentang bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa melalui teknik menulis terbimbing, dengan tujuan untuk meningkatkan keterampialn menulis deskripsi dan meningkatkan prilalu positif siswa kelas IIB SLTP Negeri 3 Kradenan Kabupaten Kudus.
Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian keterampilan menulis siswa kelas IIB SLTP Negeri 3 Kradenan. Setelah dilaksanakan penelitian teknik terbimbing pada siswa, ternyata ada peningkatan pada keterampilan menulis deskripsi siswa. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi pada aspek isi karangan, aspek bahasa, aspek ejaan dan tanda baca, aspek kesatuan gagasan, aspek diksi, dan aspek judul karangan. Dari semua aspek tersebut, dapat disimpulkan nilai rata-rata siklus I 38,33 %, nilai rata-rata siklus II 44,04 %, sedangkan dari siklus I ke tes siklus II sebesar 96,54 %.
Penelitian Ishmah (2006) yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Eksposisi dengan Menggunakan Media Animasi Berbasis Komputer pada Siswa Kelas X3 SMA Negeri 7 Semarang, meneliti penggunaan media animasi sebagai alternatif menulis paragraf eksposisi. Penelitian ini didasarkan pada hasil tindakan siklus I dan hasil tindakan siklus II. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan pada siklus I ke siklus II. Pada siklus I hasil rata-rata nilai adalah 65,07. Setelah dilakukan tindakan siklus II, Nilai rata-rata meningkat menjadi 76,27. Hasil tersebut mengalami peningkatan sebesar 11,19 atau 17,19 % dari siklus I. Hasil tersebut membuktikan bahwa pembelajaran menulis paragraf eksposisi menggunakan media animasi berbasis komputer dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa. Selain itu, terdapat juga perubahan tingkah laku siswa dalam menulis paragraf eksposisi yaitu siswa menjadi lebih berminat dan aktif dalam mengikuti belajar mengajar.
Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan tersebut, terdapat persamaan, yaitu penelitian yang dilakukan sama mengenai keterampilan menulis. Namun, ada beberapa perbedaan yaitu objek kajian dan teknik pembelajaran. Terkait dengan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan, penelitian tersebut dapat menjadi panduan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
Berdasarkan kajian pustaka tersebut, dapat diketahui bahwa Penelitian Tindakan Kelas tentang menulis memiliki persamaan, yaitu bahwa penelitian menulis sudah dilakukan oleh beberapa peneliti, keterampilan siswa untuk menulis masih relatif rendah sehingga perlu adanya peningkatan keterampilan menulis bagi siswa melalui percobaan penggunaan metode, media, dan pendekatan yang berbeda.
Perbedaannya, setiap penelitian mempunyai ide yang baru dalam hal cara sehingga hasilnya pun berbeda. Akan tetapi, penelitian tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu meningkatkan keterampilan menulis siswa. Para peneliti menggunakan teknik, metode, dan media maupun pendekatan yang bervariasi tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan keterampilan menulis siswa. Berdasarkan penelitian yang sudah pernah dilakukan maka pada kesempatan ini peneliti akan melakukan penelitian tentang menulis paragraf deskripsi. Tentunya dengan metode, dan teknik yang berbeda. Dalam penelitian ini guru menggunakan teknik objek langsung sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis paragraf deskripsi. Penelitian yang akan dilakukan adalah bagaimana peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan pada siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati.
Penelitian ini sebagai tindak lanjut dari penelitian-penelitian yang sudah ada, dengan tujuan untuk memberikan pemikiran dan tolok ukur kajian pada penelitian-penelitian lebih lanjut sehingga dapat menambah khasanah pengembangan pengetahuan mengenai pembelajaran menulis khususnya menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung. Dengan teknik objek langsung yang pembelajarannya dilakukan di dalam dan di luar kelas diharapkan siswa tidak merasa jenuh dan dapat menungkan ide serta gagasannya. Selain itu, kelebihan dalam menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung ini, agar pembaca dapat merasakan dan masuk ke dalam inspirasi penulis. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi dan mengubah perilaku siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati.
B. Landasan Teori
selanjutnya silahkan hubungi kami via email
KTI Profesionalisme Guru
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam pengertian sederhana guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya.
Juga bisa diartikan sebagai figur yang mulia atau profesi yang terhormat. Guru mengabdikan diri dan berbakti untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur dan beradab.
Guru Indonesia selalu tampil secara profesional dengan tugas utama yaitu mendidik, mengajar, membimbing serta mengarahkan pada hal-hal yang bersifat positif. Karena guru yang profesional adalah guru yang dalam melakukan tugasnya tidak hanya dapat menjawab bagaimana mengajar, tetapi dapat juga menjawab mengapa ia berbuat demikian, untuk apa dia berbuat juga memenuhi syarat profesi dan mempunyai dedikasi yang tinggi. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki 4 kompetensi yaitu pedagogic, kepribadian, profesional dan sosial. Sedangkan guru yang berkompetensi memiliki pemahaman, penguasaan, kemampuan serta kemauan.
Guru Indonesia memiliki kehandalan yang tinggi sebagai sumber daya utama untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, beriman, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Karena tanggung jawab sebagai guru adalah membantu orang tua menyiapkan peserta didik menjadi manusia yang ideal, baik dalam memberi pembelajaran ilmu pengetahuan, keterampilan serta dalam menginternalisasikan nilai-nilai moral pada anak didiknya.
Dalam melaksanakan tugas profesinya guru Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa perlu ditetapkan kode etik guru Indonesia sebagai pedoman bersikap dan berperilaku yang baik dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika dalam jabatan guru sebagai pendidik putra-putri bangsa.
Kode etik guru ini merupakan suatu yang harus dilaksanakan sebagai barometer dari semua sikap dan perbuatan guru dalam berbagai segi kehidupan baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan di dalam latar belakang di atas, dapat difokuskan pembahasannya pada 3 permasalahan.
1. Apa Arti Guru sebagai tenaga pendidik?
2. Apa Kewajiban dan fungsi Guru sebagai tenaga pendidik?
3. Bagaimankah upaya meningkatkan profesionalisme guru?
1.3. Tujuan Penelitian.
Penulisan karya ilmiah ini sebagai panduan atau dapat juga untuk menambah pengetahuan seorang guru sebagai pendidik tentang bagaimana untuk meningkatkan profesionalisme guru agar dapat menjadi seorang guru yang profesional dan dapat memajukan mutu pendidikan di Indonesia
Secara terperinci, tujuan dari penelitian dan penulisan karya ilmiah ini adalah :
1. Untuk mendapatkan pemehaman mengenai Guru sebagai tenaga pendidik.
2. Untuk Mengetahui Kewajiban dan fungsi Guru sebagai tenaga pendidik
3. Untuk Memahami upaya meningkatkan profesionalisme guru
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Kedudukan dan Tujuan
2.1.1. Kedudukan
Kedudukan guru tertera dalam UU RI pasal 2 yaitu
(1). Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan Undang-Undang
(2). Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik.
2.1.2. Tujuan
Sedangkan tujuan dari seorang guru adalah tertera pada UU RI pasal 7 yaitu :
Kedudukan guru dan dosen adalah sebagai tenaga profesional yang bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
2.2. Fungsi
selanjutnya silahkan hubungi kontak kami via email
Vierus Dalam Kehidupan Kita
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Adanya penyakit menyebabkan kami mencari tahu tentang penyebab penyakit, dan upaya mencegah tertularnya penyakit tersebut, serta cara pengobatannya. Kemampuan kami itu merupakan anugerah tuhan yang wajib kami syukuri.
Apa yang kami pikirkan dari munculnya penyakit tersebut ?, tentu kami ingin mengetahui penyebab penyakit tersebut dan cara menanggulanginya. Beberapa ahli penelitian dan menyatakan penyakit flu burung disebabkan oleh virus. Pada bab ini kami sudah mengetahui bahwa virus memiliki golongan sendiri yang sering dikenal sebagai “ The Invisible Kingdom “ atau sebagai kerajaan yang tak terlihat. Hal itu dikarenakan virus merupakan makhluk hidup sangat kecil yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang. Untuk mengetahuinya kami akan melakukan penelitian ini.
1.2. Rumusan Masalah
Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan ( dipecahkan ).Pada kesempatan kali ini kami menemukan berbagai masalah ketika kami mengamati keadaan lingkungan, seperti yang kami lihat, virus kebanyakan bersifat merugikan. Karena jenis – jenis virus yang berbeda yang menginfeksi dan menyebabkan berbagai penyakit pada tumbuhan hewan dan manusia.
Oleh karena itu timbullah pertanyaan dari hati kami, sehingga tercipta suatu masalah. Apakah sebenarnya virus itu? , bagaimana cara hidup virus?, Apakah peranan virus dalam kehidupan manusia?, Bagaimanakah cara – cara reproduksi virus?. Dengan adanya pertanyaan itu tertariklah kami untuk melakukan penelitian ilmiah ini.
1.3. Tujuan Penelitian
Pada bab ini kami akan mempelajari tentang virus. Dengan mempelajari materi ini diharapkan kami untuk mampu :
a. Mendiskripsikan ciri – ciri virus dan rekaplikasinya.
b. Mengetahui peranan virus dalam kehidupan
c. Mengembangkan keingintahuan
d. Berpendapat secara ilmiah dan kritis
e. Melakukan kegiatan yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.
1.4. Manfaat Penelitian
Adanya penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi kita yaitu sebagai berikut :
a. Kita dapat mendiskripsikan ciri – ciri virus
b. Kita dapat mengetahui peranan virus dalam kehidupan manusia
c. Kita dapat mengerti bagaimana virus itu hidup
d. Memudahkan kita dalam menghindari virus dengan meningkatkan daya tahan tubuh.
1.5. Definisi Operasional
Virus dikenal sebagai “ The Invisible Kingdom ” yaitu sebagai kerajaan yang tak dapat diamati dengan mata telanjang dan sangat banyak jumlahnya. Virus merupakan garis batas antara hidup dan tak hidup, apabila didalam sel hidup maka sebagai makhluk hidup . tetapi jika berada diluar sel hidup, sebagai makhluk tak hidup.
Jadi virus adalah partikel yang berukuran sangat kecil yang dapat menginfeksi hampir semua jenis makhluk hidup. Kita tidak dapat melihat virus dengan mata telanjang, tetapi harus menggunakan mikroskop electron, karena ukurannya sangat mikroskopik. Virus mempunyai ukuran sekitar 20 – 30 nanometer ( nm ). 1 nm = 1 / 1.000.000.000 meter. Ukurannya rata – rata 50 kali lebih kecil dari bakteri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Virus
Virus adalah partikel yang berukuran kecil, yang dapat menginfeksi hampir semua makhluk hidup. Istilah virus memiliki arti racun. Keberadaan virus mempunyai dua frase, yaitu di dalam sel – sel hidup dan satu diluar sel – sel hidup. Diluar Inangnya virus mempunyai ciri tersendiri yaitu mempunyai pertikel sangat kecil, yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.
Mereka memperbanyak diri hanya didalam sel – sel hewan, tumbuh – tumbuhan dan mikroorganisme lain. Dengan demikian depat dikatakan virus sebagai ‘ Parasit Obligat ’.
2.2. Peranan Virus Dalam Kehidupan Manusia
Seperti yang kita lihat, virus kebanyakan bersifat merugikan. Karena jenis – jenis virus yang berbeda yang menginfeksi dan menyebabkan berbagai penyakit pada tumbuhan, hewan dan manusia. Akan tetapi dengan kelebihannya, manusia dapat menemukan virus yang dapat dimanfaatkan. Berikut ini dapat diuraikan contoh – contoh virus yang menguntungkan dan merugikan.
2.2.1. Virus Yang Menguntungkan.
DNA merupakan materi genetic yang membawa sifat suatu mahkluk hidup. Apabila DNA berubah , maka sifatnya juga akan berubah. Dengan demikian virus yang menginfeksi bakteri pertama akan memiliki sifat dari bakteri tersebut. Peristiwa itu dapat dimanfaatkan untuk kegiatan – kegiatan sebagai berikut.
a. Pembuatan anti toksin
b. Untuk melemahkan bakteri
c. Untuk memproduksi Vaksin
2.2.2 Virus Yang Merugikan.
selanjutnya anda bisa menghubungi kami via email
Pencemaran Tanah Oleh Pupuk
BAB I
PENDAHULUAN
A. Perumusan Masalah
Sebagian besar lahan pertanian di Indonesia telah berubah menjadi lahan kritis akibat pencemaran dari limbah industri/pabrik dan pemakaian pupuk anorganik/kimia yang terlampau banyak secara terus menerus sehingga membuat unsure hara tanah semakin menurun.
Lahan pertanian yang sudah masuk dalam kondisi kritis mencapai 66% dari kurang lebih 7 juta lahan pertanian yang ada di Indonesia. Jika hal ini dibiarkan, produktivitas lahan akan terus menurun dan akhirnya lahan tersebut sendiri akan mati.
Langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan penggunaan pupuk organic untuk mengganti penggunaan pupuk anorganik/kimia pada tanah pertanian. Penggunaan pupuk organic bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia , sehingga dosis pupuk & akibat pencemaran lingkungan yang disebabkan penggunaan pupuk kimia bisa dikurangi.
B. TujuanPenulisan
Penulis menginginkan para pembaca mengerti mengenai masalah lahan pertanian di Indonesia yang semakin kritis karena tingginya pemakaian pupuk kimia . Penulis menginginkan para pembaca mengetahui dampak pencemaran tanah yang disebabkan oleh pupuk secara rinci. Dan juga supaya para pembaca mengetahui langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi pencemaran tanah, khususnya lahan pertanian karena penggunaan pupuk tersebut.
BAB II
STUDI PUSTAKA
A. DEFINISI PUPUK
Pupuk adalah bahan kimia atau organisme yang menyediakan unsure hara bagi kebutuhan tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung. Pupuk menurut macamnya dibagi 2 yaitu:
1. Pupuk organik
Adalah pupuk yang terbentuk atau dibuat secara alami tanpa menggunakan rekayasa kimia, fisik / biologis.
Contoh: pupuk kandang, pupuk kompos, pupuk bokashi, dll.
2. Pupuk an-organik
Adalah pupuk yang terbentuk dari hasil proses rekayasa industri secara kimia, fisik / biologis.
Contoh: NPK , Urea, dll.
Apa itu rekayasa formula pupuk?
Rekayasa formula pupuk adalah serangkaian kegiatan rekayasa menghasilkan formula pupuk secara kimia, fisik dan biologis. Formula pupuk yaitu kandungan senyawa dari unsure hara makro / mikroba.
Pupuk merupakan salah satu sarana produksi yang memiliki peranan penting dalam peningkatan produksi dan kualitas hasil budidaya tanaman. Untuk memenuhi standar mutu dan menjamin efektifitas pupuk, maka pupuk yang diproduksi harus berasal dari formula hasil rekayasa yang telah diuji mutu dan efektifitasnya.
Kedua jenis pupuk tadi ( pupuk organic dan anorganik) dipakai oleh para petani di Indonesia selama 3 dasawarsa terakhir pada masa peningkatan mutu intensifikasi di Indonesia guna menyuburkan tanah dan meningkatkan hasil pertanian. Namun, meskipun begitu, selain dapat menyuburkan tanah dan meningkatkan hasil pertanian, ternyata pupuk jugalah yang ikut andil menyebabkan pencemaran lingkungan pada tanah.
Kalau pupuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, bagaimana bias pupuk menyebabkan pencemaran lingkungan pada tanah?
Pupuk akan menyebabkan pencemaran pada tanah jika penggunaannya berlebihan ( melebihi dosis yang dianjurkan) , terutama pada pupuk anorganik.
B. Sejarah Pupuk Anorganik Di Indonesia
selanjutnya anda bisa menghubugi kami via email
Pengolahan Limbah Dengan Metode TGS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan bertambahnya kebutuhan manusia, banyak juga diciptakan pemuas / pemenuhan kebutuhan manusia. Untuk itu muncullah pabrik-pabrik industry sebagai pengolah bahan mentah untuk kemudian diolah dengan sedemikian rupa menjadi barang setengah jadi maupun barang siap pakai, untuk selanjutnya akan dikonsumsi masyarakat. Dalam jumlah produksi yang sagat besar tiap harinya akan menghasilkan sisa-sisa hasil dari proses pengolahan yang tidak terpakai. Sisa-sisa inilah (limbah) bila terakumulasi dalam jangka waktu yang lama dapat mencemari lingkungan bila tidak ada penanganan khusus.
Kemudian, masyarakat yang sebagai pelaku konsumsi pun akan “mengeluarkan” limbah-limbah sebagai hasil penggunaan hasil barang produksi tersebut. Limbah ini dinamakan limbah rumah tangga. Meskipun sedikit lebih “aman”, bukan berarti dapat seenaknya saja membiarkan limbah ini dibuang begitu saja. Karena limbah sekecil apapun bila dalam jumlah yang besar dapat memberikan konstribusi besar dalam hal pengrusakan terhadap lingkungan. Untuk itulah diperlukan penanganan yang tepat dalam pengolahan limbah-limbah industry maupun limbah rumah tangga.
B. Tujuan Penulisan
Pembuatan makalah ilmiah ini bertujuan untuk :
1. Mengurangi pengrusakan lingkungan oleh limbah-limbah rumah tangga
2. Memberikan salah satu solusi cerdas pengolahan limbah rumah tangga secara tegas
3. Mengolah limbah rumah tangga menjadi barang yang berdaya guna
C. Manfaat Penulisan
Makalah ilmiah ini disusun, diharapkan dapat emberikan salah satu solusi penanganan limbah rumah tangga sehingga meminimalisir terjadinya pengrusakan lingkungan oleh limbah-limbah rumah tangga.
BAB II
PENGOLAHAN LIMBAH DENGAN METODE TGS
A. Pengertian Limbah
Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industry, pertambangan, dll. Kehadiran limbah pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis
Oleh sebab itu, masyarakat urang menaruh perhatian akan kedatangan limbah. Terdapat sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa letak septic tank, cubluk (balong), dan pembuangan sampah berdekatan dengan sumber air tanah, akan menyebabkan kualitas air menurun. Dari 636 sampel, 285 titik sampel sumber air tanah telah tercemar bakteri coli. Secara kimiawi, 75 % dari smber tersebut tidak memenuh baku mutu air minum yang parameternya dinilai dari unsure nitrat, nitrit, besi, dan mangan. ( sumber : pengelolaan limbah industry – Prof. Tjandra Setiadi, Wikipedia )
B. Bentuk-Bentuk Limbah
Pada dasarnya limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industry maupun domestic (rumah tangga, yang lebih dikenal dengan sampah). Limbah merupakan buangan yang berbentuk cair, gas, dan padat. Limbah mengandung bahan kimia yang sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. Bahan kimia tersebut dapat member kehidupan bagi kuman-kumannpenyebab penyakit disentri, tipus, kolera, dsb. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negative terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.
Berikut ini adalah karakteristik limbah :
selanjutnya anda bisa menghubngi kami via e mail